Seneca

 Aku tak tahu harus menulis apa malam ini, hatiku sejujurnya sakit sekali. Aku tak tahu kali ini harus berpulang pada siapa. Aku menangis lagi entah mengapa


Akhir-akhir ini aku jadi lebih sering menangis, aku rindu pada Tuhan, aku rindu papaku dan tentu aku rindu rumah. Aku lelah sekali dan ingin seseorang memahami perasaanku. Tapi, yang pasti aku ingin hilang dan ingin berpulang.

Seneca bilang, kematian adalah solusi dari segala penderitaan, maka kali ini bolehkah aku mengakhiri segala penderitaan ? Sepertinya terlalu sering tubuhku sakit, terlalu sering dadaku sesak, serta terlalu sering hatiku terluka. Kali ini, aku ingin pulang.

Aku ingin pulang sebelum yang lain berpulang. Aku ingin pulang sebelum yang lain meninggalkan aku untuk kali kesekian. Aku harus bercerita kepada siapa atas segala keinginan berpulangku ini ? Sepertinya aku akan membebani banyak orang jika harus bercerita tentang hal-hal yang mungkin tidak penting. Tapi aku pun ingin ceritaku berpulang.

Mungkin tentang aku yang harus terus sehat dengan segala pekerjaan dan kewajiban yang harus aku selesaikan, atau tentang aku yang kehilangan banyak kenangan, atau tentang aku yang kesulitan menghadapi anak-anak di sekolah. Sebuah permasalahan sepele, tapi aku menangis setiap hari.

Aku merindukan papa yang selalu ingin dengar ceritaku tanpa bertanya. Tapi kata papa, hanya anak pertama yang tau perasaan anak pertama ingin diperlakukan. Katanya, aku kakaknya jadi aku harus lebih dewasa. Katanya, aku tidak lebih sulit maka aku harus lebih banyak mengerti.

Sebenarnya perasaan hatiku ini mengapa jadi sakit sekali ? Aku ingin pergi dari belenggu yang entah apa itu bentuknya. Aku ingin pulang pada Tuhan. Suatu hari, aku ingin tidur di malam hari dan tak ingin bangun lagi. Sungguh melelahkan jadi manusia yang terus terlihat senang. Jadi kali ini, bolehkah aku berpulang pada Tuhan ?

Jika aku mati, kau tidak kehilanganku, sayang. Kau hanya tak bisa menemukan aku di duniamu. Maka dari itu bersabarlah. Besok lusa akan kau dapati aku juga bersua denganmu. Tak di dunia, pastinya.





Komentar

Postingan Populer