Satu, Dua, Tiga, Milikmu

Semalam aku sendirian, menyadari banyak potongan puzzle yang berhamburan. Aku menyusunnya satu persatu, menuntun mu yang bertanya disamping ku. Kamu tidak lain seorang anak yang ingin didengar ibunya, seorang pemuda yang ingin di dengar dunia atau seorang bapak yang mungkin ingin didengar istrinya.


Sebuah obrolan yang mana kita duduk bersama, aku mengetahui bahwa seorang pemuda sedang asik bercerita. Aku tidak menyembuhkan apapun, tapi mendengar dan bercerita menjadi dua hal penyembuh meski tidak berbuat apa-apa.

Aku suka keduanya, mendengar dan bercerita. Bagi seorang pemuda yang katanya sulit berbagi, maka ingin ku sediakan banyak waktu untuk bisa saling berbagi. Dunia yang kadang mungkin terlalu keras padamu bisa kau adukan segalanya. Aku akan siap mendengar meski kadang satu dua kali mungkin tidak paham. Tapi, itu tugasku juga, mengejamu, membacamu.

Di dunia yang cukup membuatmu gusar, pulanglah sekali-kali, datanglah padaku untuk berbagi. Maka sebenarnya bukan kamu tak mau atau bahkan tak mampu, kamu hanya perlu memberi sedikit ruang untuk membuang segala pilu

Hiduplah berkali-kali, kembalilah padaku sebanyak engkau mau. Pada satu, dua dan tiga letih itu, aku harap sandarmu berpulang padaku, hari ini atau mungkin nanti

Komentar

Postingan Populer