Aku Dibuai Di Perut Bumi

 Pukul 2 dini hari, aku masih terjaga dan enggan menutup mata. Ada perasaan sakit dan terluka entah dimana saja. Seluruh tulang punggungku sakit, perutku diaduk tak keruan, napasku jatuh pelan satu persatu.


Suaranya samar, riuh namun hampir memudar, bip bip satu persatu. Pandanganku mulai keruh, memutih, menghilang, aku mengantuk ingin terlelap. Ada sakit yang tak lebih sakit dari sebelumnya, sesuatu yang menyengat diujung lengan. Kemudian dingin satu persatu udara melewati kerongkongan. Saat itu, aku hilang.

Ramai sekali, isi kepalaku. Penuh sekali isi dadaku. Berat, mungkin ini rasanya bilal ketika ditimpa batu. Aku menggerutu kesal pada diri yang tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin berlinang juga beberapa tetes air dari ujung mata, bukan sedih tapi sakit yang entah bagaimana aku tak lagi tau setaranya. Saat itu, aku mengingat tuhan, bukan hanya karena aku berdosa, tapi juga karena "Kenapa engkau tak matikan saja aku disaat hidupun cantiknya tak sebegitu ?"

Sudahlah lelah aku, tiba-tiba sakitnya tak malah memudar, sakitnya jadi lebih menyakitkan. Seseorang menggugah-gugah aku, menepuk-nepuk orang kegirangan memanggil Aku. Mengajakku bicara, meski dalam hati berkata "sialan, tak cukup daya untuk berbicara masih kau tanya aku hal yang tak berguna ?"

Pagi itu, aku yang enggan hidup malah dihidupkan lagi. Dalam keadaanku yang benar-benar setengah mati, ku ingat kamu dengan sedemikian rupa. Bukan lagi ayah bunda, tapi seorang manusia yang entah juga memikatku bagaimana.

Pada pikiranku yang hampir terlelap lagi, aku bersedia memikirkan perasaanmu yang entah juga hasil dari pencarian yang mana. Sayup-sayup aku mengingat sesuatu hingga pada lembar dimana aku berkata pada diriku "jika aku mati hari ini, sepertinya kamu tak akan sudi duduk lama menunggui jenazah yang baru saja menyakiti dirimu malam tadi, bukan ? Aku melukaimu banyak, dan sepertinya tak pantas bagi aku meminta banyak."

Kemudian, di kesempatan yang menyakitkan itu, aku menghilang sesaat. Bayang samarmu pulalah yang membuatku pulang. Hari ini, raga yang sepenuhnya ingin mati tak jadi dibuai di perut bumi. Ia terlampau takut seseorang tak menyelamati perpisahannya ketika tiada. Maka kesempatan yang tak seberapa itu ia gunakan, memperbaiki hal agar kamu si pemuda itu mau duduk paling lama saat aku jadi jenazah. Kuharap pula kamu yang paling sering datang menceritakan satu dua hal penting tak penting dunia yang kadang adilnya tak bisa kamu terima.

Aku selalu ingin jadi tempatmu pulang meski aku sudah bersama tuhan, aku ingin terbesit pada ruang kepalamu meski aku sudah dibuai di perut bumi. Sebab aku tak punya selain engkau sebagai teman pulang yang menyenangkan. Pagi mencekam itu, aku menyadari bahwa menyakiti dirimu adalah bentuk paling memalukan dari aku yang telah melucuti segala perasaanku.

Aku, terlelap hingga beberapa waktu lalu terbangun lagi dengan mengingatmu. Begitu, selalu, sehari-hari, setiap hari. Seakan semalam sesaat aku lupa. Jadi, bagaimana bisa semalam aku berniat untuk tak ingin mencintai meski hanya dalam satu hari ?

Semoga engkau sepanjang umur ku, agar aku mati dahulu, agar kamu memeluk erat aku dan kehilangan aku ketika aku beranjak pergi dari dunia



Komentar

Postingan Populer