Aku Menjumpai Diriku Yang Tak Berguna
Suatu hari yang tidak begitu seberapa, aku termangu menatap diriku sendiri. Akhir-akhir ini aku seperti tidak memiliki diriku. Aku terbangun dengan melamun, aku terbangun dengan bingung dan kosong. Seakan bertanya "hari ini aku harus mengerjakan apa ? Atau, hari ini aku harus menyelesaikan apa ?"
Akhir-akhir ini aku sering menangis, bingung dan tak tahu mau berbagi pada siapa perasaan ku yang terlalu rumit, tapi mungkin tidak juga. Aku sesekali bertanya "harus mengambil pekerjaan apa lagi agar aku bisa tahu aku maunya apa ? Harus berapa banyak buku agar aku paham perasaan ku ?" Aku seperti tidak berguna, aku seperti sepenuhnya kehilangan diriku.
Aku hidup setiap hari dalam keadaan seperti tidak membantu apapun bagi mereka yang aku sayangi. Aku seakan terus saja menambah satu persatu kegundahan mereka yang aku sayangi. Benarkah aku tidak menyelesaikan satu hal ? Benarkah aku lari dari suatu hal ? Banyak pertanyaan berputar di kepala, banyak hal pertanyaan apakah aku layak ditemani dan dicintai ? Kemudian, aku menjumpai diriku menangis lagi.
Sebenarnya, aku inginnya apa ? Sebenarnya aku maunya apa ? Apakah aku akan menjadi manusia paling buruk sebab tidak memahami diriku sendiri ? Terkadang pun aku merasa menjadi manusia yang sangat menyedihkan. Mampu menasihati orang lain bahwa kehidupan bukan perlombaan, tapi tak sadar bahwa diri sendiri pun sering membandingkannya dengan orang lain.
Keputusasaan, ingin menyerah, tak tahu apa yang aku inginkan, kemudian aku seakan tersesat dan terombang ambing tak keruan. Mengapa aku tak sebaik dulu dalam mengambil keputusan ? Mengapa aku lebih banyak takutnya ? Lalu, mengapa aku tidak mencintai diriku sendiri ? Dan mengapa aku mementingkan kebahagiaan dan kenyamanan orang lain ? Apakah kali ini aku takut ditinggalkan ? Apakah kali ini aku takut mengecewakan ? Tapi bukankah aku sudah mengecewakan diriku sendiri ?
Mungkin tulisan ini akan terus berisi pertanyaan, pertanyaan pada diriku yang entah maunya apa. Apakah seorang seperti ku layak dicintai ? Jika pun iya, semoga yang mencintai aku tak akan terluka. Sebenarnya aku pun lelah menangis, aku pun ingin mengadu sekali-kali. Tapi, bolehkah seorang seperti aku menangis dihadapan seseorang yg menganggap ku mampu menyelesaikan nya sendiri ? Bolehkah seseorang sepertiku mengemis waktu agar diluangkan banyak kesempatan agar bisa berseru ? Tapi, Bukankah yang mencintai aku tak akan membiarkan ku dalam perasaan kesepian hingga membuatku mengemis waktu kepadanya ?
Sepertinya, aku memang selalu sulit terbaca, selalu sungkan meminta banyak pada orang lain, atau mungkin sering kali tak ingin membebani manusia lain. Tapi, dengan perasaan seperti itu, aku tak ingin orang lain pun tahu rasanya. Maka ku beri pula usahaku yang sepertinya perlahan melukai aku.
Dalam keikhlasan yang ku rawat dengan baik, sepertinya alam bawah sadar ku sebenarnya menuntut banyak. Menuntut ketidakadilan dan menuntut ketidaksenangan. Kali ini aku harus menyelesaikan diriku, entah dari mana, entah harus membaca buku apa atau bertemu siapa. Sungguh menyebalkan berada di tengah ramai sedang aku mengunci rapat keinginanku dan kisahku berpulang. Aku ingin marah sekali-kali, aku ingin meledak sekali-kali, aku ingin menuntut sekali-kali. Kemudian, yang terakhir, aku ingin memaklumi diriku sekali-kali.
Diantara perasaan ku yang ingin hilang, bersembunyi, dan berlari-larian, aku ingin seseorang datang untuk menemukan. Menemukan diriku yang bahkan aku pun tak dapat menemukannya. Sebuah keadaan rumit manusia, yang mungkin bisa jadi : muncul perasaan kita yang tak pernah takut mati jika telah merasa tak ada yang akan mencari :')
Komentar
Posting Komentar