Yang Paling Dekat Beresiko Melukaimu Paling Menyakitkan

https://open.spotify.com/track/1E7zLPDdqo0OvzVmGj5aoV?si=RW3DI67bSt-nFUdn80C63w 


Sebelum membaca tulisan yang lagi-lagi tak seberapa ini, boleh juga kalau kamu mendengarkan lagu Sal diatas. Ya tak mengapa, dengarkan saja. Hehe

.

.

Suara kipas tua di kamar ku menemaniku menulis malam ini. Mataku mengantuk sekali, ingin ku tutup meski sedari tadi sudah ku buka tutup menahan-nahannya agar tidak menutup cepat hingga isya nanti.

Sedari dua hari lalu aku tak paham mengapa aku sering murung, menangis dan dipenuhi kesedihan bagai orang tak punya iman. Rasa-rasanya aku hanya beban keluarga yang disuruh pulang melihat proses beban itu sedang dilakukan mati-matian oleh dua orang pemilik semestaku sejauh ini.

Aku seperti tak bisa ini, tak bisa itu. Mungkin sekali dua kali mereka muak dan melempar sumpah serapah yang mungkin jika dikonotasikan akan bersuara seperti "Wajar saja kamu dimaki, bergunalah sedikit!"

Kadangkala aku mengira bahwa banyak orang mencintaiku. Banyak orang tua menyayangiku, mengganggap aku sebagai anak mereka. Tidak sedikit anak-anak kecil bermain-main ramai ketagihan dan mengundangku sekian kali. Atau mereka yang sebaya merindukanku untuk datang lagi.

Seakan tak bisa apa-apa dan banyak kurangnya, aku dirumah hanya mampu diam tak betah lama-lama. Tak bisa dipungkiri aku mencintai bunda, menyayangi papa dan merindukan nenek dan kakek ku di rumah. Tapi, rasa-rasanya memupuk rindu dan berbakti pada mereka dari jauh dengan kewarasan diriku lebih menyenangkan ketimbang pulang dengan banyak luka yang sedikit-sedikit memupuk hatiku setiap hari.

Dari bunda dan papa saat bertemu, tak kudapati kepercayaan diriku bahwa aku berhak dicintai, disuka, disayangi.

Setiap hari aku bertanya pada diriku sendiri "sayang, benarkah kamu bisa dicintai ?" Atau "sayang, benarkah kamu layak untuk dicintai ?"

Dari yang paling dekat aku temui luka yang paling mudah dilakukan tapi juga teramat penuh sakitnya. Kalian tau mengapa ? Sebab yang dekat tak pikir panjang atas resiko melukai orang lain. Mungkin pikirnya "Aku berhak, ia anakku. Maka aku berhak mengatakan sejujurnya"

Tapi, sebenernya mungkin akupun begitu, melukai bunda dan papa. Sebab kita Beresiko melakukan hal yang sama tapi tak merasa. Iya, bukan ? Sayangnya, "merasa tidak pantas" itu hanya dirasakan olehku mungkin tidak terasa jika berkelompok.

Besok lusa, aku ingin berkelana. Ingin tidak diketahui papa dan bunda, tapi rasanya seperti durhaka. Semoga aku masih pantas dicintai semua orang, semoga aku berhak berbagi kasih dengan banyak orang. Dari segala hal yang terjadi, semoga maaf papa dan bunda tak pernah habis.  Semoga keduanya mencintaiku selama umur dunia dan surga. Tak perlulah Keduanya memaklumi ku yang tak pernah membuat keduanya bangga. Tapi semoga papa dan bunda tak bosan untuk menunggu aku bersemi dan berbunga







Komentar

Postingan Populer