Langit Ingin Jadi Muara
Malam ini sepi sekali. Satu-satunya yang ramai adalah bisik-bisik bulan yang mengintip diantara awan-awan yang bersiap mengguyurkan hujan. Kilat menyambar-nyambar dan gemuruh memekik memamerkan bahasa kesempuranaan "Selamat membumi wahai awan, bagaimana rasanya berpulang dan memeluk bumi?" Katanya. Awan hanya tersenyum sambil kegirangan, kemudian berkata "Bukankah kamu juga mencintai bumi dengan terobsesi memutarinya setiap hari ?" Keduanya tertawa. Mereka mencintai bumi dengan luar biasa.
Tapi, diantara semua kegirangan dan senyuman kurang syukur itu, langit menatap bumi dengan sedih. Bagaimana caranya 7 lapis ini membuktikan bahwa cintanya luar biasa pada bumi ? Bagaimana caranya agar bumi percaya bahwa ia adalah cinta satu-satunya ? Selama ini ia menjadi langit, tempat awan bersemayam, tempat bulan berkeliling, tempat ia mengembalikan beribu cinta dari air yang menumbuhkan pepohonan, tempat dari cahaya mentari membantu makhluk hidup bermetamorfosis. Suatu hari, ia ingin jadi Muara, katanya "Aku langit, ingin jadi Muara, tempat dimana ia berpijak dan memeluk pada bumi, menerima cinta kasih langit dari awan yang menurunkan hujan dan memberikan penghidupan untuk segala kawan, juga tempat dimana ia menggemakan bahasa cinta bulan di malam hari."
Hari itu, langit begitu iri melihat bumi yang hanya diam menerima beribu cinta semesta tanpa melihat perasaannya. Suatu hari nanti, mimpi langit akan terus menjadi mimpi, sedang cinta nya yang tak paham ia ungkapkan itu entah sampai atau tidak pada bumi.
Engkau bumi, beribu cinta milik semesta bisa engkau dapatkan. Tapi bisakah kau sadari bahwa cinta langit yang tak bertiang itu berkaki padamu seorang ?
Besok lusa jika langit dilipat, barukah kau sadari bahwa ia murka melihatmu tak bersyukur menerima kosakata cinta setiap harinya ?
Hai bumi, langit mencintaimu dengan bingung. Mungkin besok bisa kau beri tahu ia bahwa mungkin ada baiknya jika kalian berdua berubah menjadi manusia
Komentar
Posting Komentar