Aku Berbuat Salah, tapi Terus Mengulanginya
Sebelum shubuh aku sudah terjaga. Tidurku yang semalaman gusar mungkin sebab gelisah bunda dan papa di rumah. Bagaiamana tidak, mungkin semalam hujan deras mengguyur rumah.
Aku melihat seseorang ibu duduk memeluk anaknya di deck tiga. Laut malam ini hitam, hujan dari langit pun deras, mustahil bagi kapal tidak bergoyang semalaman. Dari tali kasih itu, aku mengingat bagaimana bunda menyayangiku, memeluk ku dua puluh tahun lalu saat berpergian tanpa papa ke kota lain. Mungkin dia bilang "Jangan nangis yaa dek, bunda disini. Nanti papa menyusul" meskipun nyatanya ia berlinang juga.
Dari hasil bangun pagi ku yang terlalu pagi ini, aku hanya duduk di depan kantin yang masih sepi. Memesan susu putih hangat sebagaimana bunda memberiku setiap pagi. Mungkin ini perasaan Magi saat meninggalkan Ina nya. Mungkin ini perasaan gejolak Magi yang saling bertolak dengan Ama nya.
Bagaimana rasanya Magi pergi dari rumah 8 bulan tanpa berkabar ? Aku duduk melamun hingga adik ku mengirim pesan "kalau sudah dekat, berkabar yaa kak". Papa semalam menyuruh adik menelepon, bertanya kapan sampai. Tapi sepertinya gengsi nya lebih besar hingga berkata "Papa tidak suruh adik telfon. Dia sendiri yang mau" aku hanya tersenyum-senyum mendengarnya begitu fi seorang telepon.
Adakah orang tua yang tidak merindukan anaknya ? Adakah ia yang tidak memikirkan kepulangan anaknya ? Bahkan setiap kita disiapkan untuk mampu hidup sendiri ketika mereka tak ada, bukan ? Tapi, rasa-rasanya kita tidak pernah mampu menghibur diri ketika keduanya tak ada.
Tulisan hari ini mungkin tidak seberapa, tapi aku paham betul bagaimana perasaan Magi merindukan orang tuanya. Perasaan ingin memeluk, perasaan ingin pulang, perasaan ingin dimaafkan padahal mungkin tidak ada atau bahkan tidak punya kesalahan. Tapi yang pasti kesalahan meninggalkan dan nyaman di perantauan adalah perasaan bersalah bagi kita pengembara yang terus diulangi, berkali-kali.
Untuk Papa dan Bunda jika suatu hari membaca ini, maaf ku tak pernah sampai tentang mungkin rasa betahku berjalan mengembara, atau mungkin perasaanku yang tak ingin menghidupkan tanah sendiri. Maka hiduplah lebih lama, tanyailah bagaimana perjalananku dan kabarku, selagi itu terjadi hiduplah dengan sehat dan sayangi aku terus menerus dengan pengjagaan doamu yang tak pernah habis.
Kali ini, aku pulang lagi. Kemudian dengan jahatnya memikirkan untuk rencana pergi lagi. Begitulah anakmu, menggembirakan tapi lupa kerinduan Papa bundanya
Sampai nanti bunda, sampai nanti papa, hiduplah yang lama. Selama aku masih punya banyak mimpi dan cerita yang ingin selalu kupulangkan pada engkau berdua
Dan semoga nanti ada pula ku temui Dangu yang menyayangiku dan menjagaku dengan luar biasa
Komentar
Posting Komentar