Mencoba Mantra Untuk Memahami Manusia
Pagi ini aku terbangun dengan luar biasa. Sebuah pagi yang aku tidak bisa tertidur lagi, sebuah hal yang bertentangan dengan kebiasaan keseharian ku
Aku merebahkan tubuhku, memandangi langit-langit kamarku, sesekali beranjak keluar kamar dan menengok sebenar-benarnya langit, memperhatikan bagaimana longitude dan latitude membagi bumi
Aku bertanya padaku sendiri, begitu pula kah Tuhan membagi perasaan manusia ? Garis khayal yang tidak juga terlihat dengan mata itu sendiri, bertemu atau tidaknya bisa diperhitungkan
Aku memperhitungkan, merapal Mantra Untuk menguji bagaimana kesabaran manusia. "Mari lihat buruk ku, apakah kau cukup sabar untuk itu ? Hai Tuhan, kali ini bantu aku untuk menggeledah isi hatinya" Tapi, bukankah itu tugas Tuhan ? Aku menguji kesabaran seorang pemuda, masihkah ia menginginkan ku jika aku banyak kurangnya ?
Masalah menjatuhkan hati tidak pernah mudah, ia diciptakan untuk seseorang yang bisa dipatri. Sejujurnya aku takut dicinta, aku pun takut melukai orang lain. Tapi seseorang mungkin mengira aku banyak kurangnya dan repot dibersamai. Jadi, untuk pilihan hidup bersama dalam waktu yang lama itu aku perlu tahu seberapa sabar ia menerimaku, bukan ?
Dari banyak hal yang aku menyadari bahwa aku banyak bisanya, aku memilih mengenalkan diriku yang tidak mengerti banyak, aku mengenalkan diriku yang banyak lemahnya. Aku kadang sangat picik bahkan untuk sekedar mengenal manusia
Membaca manusia adalah hal menyenangkan, semenyenangkan menemukanmu kemarin, dan menemukan hal baru tentang mu lagi hari ini
Beberapa hal datang hanya karena penasaran. Beberapa hal menarik yang kiranya berkesan ku jumpai dan ku nikmati perlahan. Sayangnya, ia perginya tak sabaran. Mungkin, ombaknya tak cukup mampu memecah karangku, mungkin angin nya tak cukup kuat untuk mematahkan dahanku
Dari aku yang banyak maunya, gerangan siapa bisa membersamai banyak ingin itu ? Kali ini, mungkin aku jatuh hati lagi, mungkin juga tidak. Tapi, cukup kuatkah ia meyakinkan ku saat dirinya saja tidak mampu meyakinkan dirinya ?
Ah, aku membersamainya dalam waktu yang lama. Haruskah kali ini, aku membiarkan nya lagi ? Haruskah ku lepaskan lagi ? Adakah perasaan yang menahan diriku untuk tidak ingin bercakap dengannya ? Ah sepertinya, tak akan sampai perasaanku padanya
Datanglah sekali-kali, atau mungkin selalu. Aku menyukainya. Tapi sepertinya kamu tidak tahu. Jika kamu tidak temukan aku dimanapun, percayalah bahwa aku merapal doa memastikan hatimu tenang. Maka kirimi aku dengan berjuta doa, temukan aku pada usaha mu yang begitu putus asa hingga membuatmu mengemis pada Tuhan. Aku akan sangat bersyukur bahwa aku adalah kiriman kemurahan Tuhan pada seorang hamba sepertimu
Hiduplah dengan sehat, sebagaimana aku. Hiduplah yang lama, mari berteman untuk waktu yang lama. Mungkin salah satunya dengan saling menemani perjalanan kita berdua. Sampai bertemu, secepatnya :')
Selamat jatuh hati lagi, mungkin ✌️🤏
BalasHapus