Sebuah Alasan Mengapa Saya Mencintai Yogyakarta





Saya mendapati Yogyakarta sebagai kota pertama saya untuk merantau, mengambil keputusan, bersikap berani, dan membebaskan mimpi-mimpi saya. Saat usia saya 14 tahun, sebuah usia dimana saya masih cukup belia untuk menjadi manusia bagi mereka yang merasa keluarga adalah harta paling berharga.

Percaya atau tidak, saya mencintai nya sejak pertama kali saya menginjakan kaki di sana. Mencintai orang-orang ramah yang menyapa saya, mereka unik. Sekali saya menyapa mereka di hari ini, mereka akan membalas sapaan saya besok, kemudian berlanjut kepada menceritakan hal-hal baik, hingga akhirnya menjadi teman cerita saya yang terus menyenangkan. 

Saya menyukai Yogyakarta pada setiap sudut yang ada. Pada hari-hari dimana saya bangun pagi menaiki sepeda sambil melihat para lansia menyiram bunga di taman-taman kecil depan rumah mereka. Saya mencintai hari dimana saya mendapati bahwa suhu kota Yogyakarta tidak panas juga tidak dingin, saya mendapati bahwa mimpi-mimpi saya terus merasa kurang akan capaiannya dan ingin terus melangkah maju. 

Saya menyukai Yogyakarta, pada setiap ibu-ibu yang mencari menantu dan bersikap ramah pada kami. Kami hanya membalas mereka dengan senyuman, ah andaikan lelaki Yogyakarta memang semudah itu di ajak bercinta. Hehe, saya bercanda, Yogyakarta hampir sebagian besarnya pendatang, dan sudah pasti saya jatuh hati pada seorang pendatang.

Pada Yogyakarta yang ramah itu, saya tidak sengaja menemukan manusia-manusia yang suka membaca, bahkan mas-mas angkringan tetangga tempat tinggal saya juga suka membaca. Mereka tidak aneh saat saya membeli es teh dan nasi kucing sambil membaca. Itu menyenangkan, dan saya terus merindukannya.

Di Yogyakarta, pada cafe yang cantik-cantik dipenuhi mahasiswi/a, saya temukan seseorang di tengah kerumunan. Yang baik sekali perangainya, entahlah pendatang dari mana ia. Pada Yogyakarta yang menemukan kami berdua, kami menginjakan kaki serentak bertekad untuk tinggal bermukim disana pada waktu yang sama. Kami menitipkan segala mimpi dan cita kami di dalamnya.

Aku menyelami banyaknya jalanan Yogyakarta, menemui pagelaran seni yang menyenangkan. Aku menyusuri banyak Gedung demi menonton banyak pertunjukan, teather, wayang dan banyak lagi. Aku melintasi banyak pedesaan sederhana demi melihat ramah tamahnya warga Yogyakarta. Kamu tahu, warganya selalu menyenangkan. Ramah dan suka menawarkan kebagaiaan sederhana. Se sederhana kata – kata “Mari mbakyu, kerumah saya. Alhamdulillah bapak baru panen singkong dan jagung, mari kita makan Bersama – sama.”

Warga kota Yogyakarta sungguh ramah - ramah sekali. dari ramahnya warga kota itu, aku belajar untuk mencintai diriku sebagaimana aku mencintainya. Yogyakarta terus menyenangkan, melegakan dan menenangkan. Belum ada ketenangan setenang Yogyakarta, tidak ada harum mewangi kisah sebaik kisah Yogyakarta. Mungkin saya pergi bermain kurang jauh, tapi pada Yogyakarta, saya bebas berkata pulang bagai rumah.

Sampai bertemu lagi, Yogyakarta 

Komentar

Postingan Populer