Pada Suatu Titik, Dirimu membuatku bingung
Pada suatu titik, dirimu membuatku bingung
Pada dasarnya, pesan – pesanmu selalu
ku baca.
Kisahmu, memberiku sedikit makna
untuk tetap berusaha.
Setiap hari, kerjaku menantimu
berbicara
Apakah itu menyenangkan ? Ya, tentu
saja
Semua orang mengira kita sepasang
Bahkan mengira bahwa waktu tidak
dapat membuatnya lekang
Ternyata, aku bukan tempatmu pulang.
Seorang guru yang kita hormati,
Mengira kita telah bersatu hingga
kini.
Kali ini, aku bertemu ia dan
tersenyum tanpa arti
Tidak berharap kita berdua dapat
berkisah lagi
Kudengar bisik – bisik orang
berkisah tentangmu
Tentang bagaimana dirimu
menceritakanku.
Namun, pesanmu tidak pernah lagi
mengonfirmasikan diri
Mengabarkan sayup – sayup kenangan
tak dapat dimengerti
Sapamu juga demikian
Tidak lagi mengetuk sukmaku sesuka
hati
Kepada kelancanganmu yang aku
menyukainya
Tidak bisa kah menetap lebih lama ?
Pada signal – signal dikepalaku yang
mengabarkan kenangan
Sukmaku melemah tak bersuara.
Pada gema – gema semesta yang terus
bersuara
Semua palsu jika itu bukan darimu
yang berharga
Kita digantung jarak, aku disiksa
waktu yang menyuruhku menunggu
Diriku terus saja di paksa percaya
pada sesuatu yang belum pernah terikat
Sukmaku berhenti berusaha
Pada dinding – dinding harap yang
dipaksa terus terlahir ada
Bagaimana bisa aku percaya kisah
semesta ?
Sedang dirimu tertawa pada bunga
lainnya
Sebuah diksi menyatakan bahwa kita
berdua adalah senyawa
Dua hal yang berbeda dan tak dapat
bersama
Semesta mencekikku
Memaksaku percaya, memaksaku
berusaha, memaksaku menahan sakit yang ada.
Sedang aku disini, terkapar bingung
atas sikapmu.
Benarkah kau peta yang menunjuk arah
jalanku agar tetap bersama ?
Benarkah kau adalah untaian –
untaian kisah yang masih terus bersambung meski tak menentu ?
Dirimu menganggu, bahkan gelapnya
malam tak lagi sepi.
Bisik – bisik kenangan kisahmu terus
memenuhi ruang isi
Bilik – bilik rindu, aku ragu itu
pantas untukmu.

Komentar
Posting Komentar