Jika Kamu Lelah, Tolong Beristirahatlah
Kalau
dibilang lelah, ya memang begitu adanya. Namun, kita melelahkan apa ? kehidupan
? satu persatu kewajiban kita sedang di uji. Maka setiap kita tidak punya
kepribadian yang sama. Setiap kita tidak bisa melulu menceritakan apa yang kita
rasa. Namun, menunggu orang lain peka juga kita tidak punya kuasa. Kita di
tuntut hidup di tengah manusia yang kita disuruh bercerita tentang bagaimana
kehidupan kita, namun sayangnya ketika kita bercerita tidak membuahkan hasil
yang ingin kita terima. Lalu, untuk apa kita bersusah payah berkisah pada harap
yang tidak pernah berarah ?
Berapa
banyak yang tahu luka kita sendiri ? berapa banyak yang tahu keinginan terbesar
kita ketika sedang berupaya ? matamu sering sekali sembab, hatimu sering kali
sakit. Namun, siapa yang peduli pada luka – lukamu ? tanganmu sering kali
menggenggam erat menahan tangis, suaramu sering kali tercekik keadaanmu menahan
segala amarah yang ingin kamu ungkapkan. Orang lain tidak tahu seberapa besar
kamu telah berusaha, mereka tidak tahu seberapa besar dirimu telah mencoba
bertahan. Tapi sekuat apapun kamu,kamu tidak akan pernah benar – benar bisa
menghadapinya. Berapa kali kamu harus menangani rasa sesak di dadamu sendirian
? berapa kali kamu harus menahan rasa sakit yang memenuhi kepalamu ? kita tidak
benar – benar tahu sampai kamu memang menghitungnya sendiri. Kamu akan sadar,
kamu sudah terlalu banyak terluka untuk dirimu sendiri. Tapi kamu terkadang
tidak tahu harus berkisah kepada siapa, kamu tidak tahu harus melapor kepada
siapa,
Jika
kamu lelah, tolonglah kamu perlu istirahat. Matamu harus berhenti menangis,
senyum mu harus berhenti pura – pura. Kamu berhak bahagia. Tolonglah berhenti
melukai jari – jarimu sebab kamu menahannya. Berhentilah menggigit bibirmu
sebab kamu tidak bisa berbicara sejujurnya. Tapi tentu saja kamu tidak bisa. Kamu
bertanya “kiranya kapan aku bisa menyelesaikan segala luka yang diciptakan
semesta ?” bisakah kamu meninggalkan segala luka yang tercipta ? mungkin saja
itu adalah bagian dari hidupmu. “I’m trying so hard to breath” ternyata satu
lirik itu pernah mendatangimu di salah satu dari banyak episode kehidupanmu.
Entah
dunia yang tidak memahamimu atau memang kamu tidak ditakdirkan memahami system kerja
semesta. Napasmu sering kali tercekik, tersenggal tidak bisa bernapas. Tidak ad
yang mampu kamu lakukan, kamu tidak pernah bisa berteriak kepada semesta, kamu
tidak pernah bisa memberontak kepada semesta atas ketidak adilannya. Namun, air
matamu terus menerus jatuh menderas,
bagaimana caranya agar bisa terhindar dari keadaan ini ? kamu telah
lelah menjelajahi dunia yang sebenarnya tidak perlu kamu lewati, namun
keadaanmu yang memaksamu ada disana. Bagaimana caranya beristirahat dari rasa
lelahnya ? memimpikan sesuatu yang kita harapkan, tidak semudah itu memutar
balikan dan mengganti apa yang memang sudah ada disana secara paten. Kita tidak
bisa menghapus segala sesuatu yang telah di takdirkan kepada kita sebelumnya. Luka,
entah itu bisa hilang atau memang menetap disana yang selalu memberi rasa sakit
yang sama dari waktu ke waktu.
Yang
selalu menjadi pertanyaan adalah : bagaimana caranya beristirahat ? jika ini
adalah permohonan maka tolonglah, saya hanya ingin beristirahat sebentar saja. Saya
hanya ingin tahu bagaimana dimengerti orang lain, saya ingin tahu bagaimana
rasanya di dengar dan diberi pengarahan yang baik dan sesuai. Saya ingin tahu
rasa sayang semesta kepada saya. Saya ingin tahu rasanya mengadu dan berkisah
pada orang yang tepat. Saya hanya ingin didengarkan, tolong. Sekali saja, saya
ingin punya segalanya dengan cara sederhana ini saja.
Menggabut pastinya
BalasHapus