Memaknai Lagu Padang Bulan
Sarat akan makna pedesaan yang masih sangat asri dan terisolir. Lagu padang bulan sangat menggambarkan desa kecil ku sewaktu aku belia. Liriknya yang berbunyi :
Yok prakonco dolanan nang njobo
padang wulan padang e koyok rino
Rembulan e, sing awe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore
Seakan-akan bait pertamanya itu mengingatkan aku sepulang mengaji, hanya ditemani cahaya bulan dan gurauan anak-anak seusia SD kembali dari surau. Tertawa-tawa sambil mendekap al Qur'an di dada kami masing-masing. Jangan tanya bagaimana listrik pada zaman aku kecil, dua hari sekali listrik padam. Listrik yang hanya menyala sejak jam 18.00-00.00 akan padam bergilir dua hari sekali. Saat lampu padam, biasanya para kakek nenek kami, atau orang tua kami membekali kami dengan obor bambu, atau mungkin lampu minyak agar jalan pulang ke rumah kami bisa terang.
Jika ditanya, pernah tidak aku pulang sendiri lalu ketakutan, ya tentu saja. Aku pernah pulang dari mengaji yang saat itu lupa kalau jadwal mati listrik. Lampu-lampu padam sedang teman-teman ku tidak mengaji. Aku lari sampai rumah, mungkin tidak keruan bagaimana aku menjelaskan rambut-rambut ku keluar dari jilbabku. Penampilan ku awut-awutan, sampai-sampai bunda heran melihat anak gadisnya.
Kembali pada lirik lagu padang bulan. kadang kala, sambil menunggu aku mengantuk, aku merealisasikan lirik "yok prakonco dolanan nang njobo". Aku sengaja mengajak anak tetangga bermain di latar rumahku yang luas itu, bermain sepeda atau mungkin petak umpet hingga malam. Kata "padang bulan padange koyok rino" memang benar adanya, sinarnya terang sekali hingga sekali-kali kita tidak takut hilang, karena sinar malamnya cukup terang. "Rembulan e, sing awe-awe" bulannya cantik, seperti memanggil-manggil. Yang benar saja, tentu saja memanggil kita agar ingin main di luar. "Ngelingake ojo podo turu sore" mengingatkan kita agar tidak tidur sore. Bagaimana mau tidur, terang bulan sangat tidak asik jika kita lewatkan.
Selain menenangkan, terang bulan dan lagu ini menyenangkan. Semenyenangkan cerita kakek ku tetang Majapahit, Ramayana dan Shinta, Cindelaras, dan masih banyak lagi. Teman-teman sekolahku saat itu iri sekali, jarang anak seumuranku tau bagaimana cerita Gajah Mada bertemu Kebo Marcoet. Atau tentang Yuyu kangkang bertemu dengan Kelenting Kuning. Kakek ku adalah salah satu tokoh desa kami yang suka perwayangan, itu mengapa aku juga banyak tau tokoh-tokoh perwayangan.
Kataku pada teman-teman ku saat itu, "aku punya teman seperti Cindelaras, yang kuat, sakti dan baik hati." Tanpa sadar, maksud ku adalah kakek ku sendiri.
Bagi ku, bagi keluarga dan teman-teman sekitar rumahku saat itu, cerita dari kakek ku adalah cerita menyenangkan yang hanya bisa di dengar saat listrik kami padam. Karena pada saat listrik akhirnya menyala kembali, kadangkala ayahku menyiapkan pertunjukan layar lebar, mungkin sebulan sekali. Desa kami menyenangkan, aku deskripsikan sebaik mungkin agar orang-orang tahu bahwa rumah kami nyaman sekali untuk berpulang.
Besok-besok, jangan ragu bertamu pada rumah-rumah kami. Rumah yang tidak punya plafon rumah, tapi tetap hangat karena orang-orangnya. Jangan merasa sepi meski kami di desa terpencil, sebab banyak sekali waktu yang kami habiskan untuk membaca buku. Desa kami menyenangkan, kamu akan tetap aman meski pulang tengah malam, kamu akan tetap kenyang meski tidak punya nasi untuk di makan.
Aku, tidak pernah khawatir kelaparan saat berada di desa kami, sebab saat kami bertamu orang-orangnya bersinar menyinari kami seperti rembulan pada bumi nya, sembari bertanya "sudah makan ? Ayo makan dulu kalau belum." Desa kami menyenangkan, sekali-kali mari datang dan nikmati sendiri bagaimana masyarakatnya menjamu tamu hingga kamu ingin mengulang temu
Komentar
Posting Komentar